Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel

Sungguh Abdullah seorang lelaki yang sangat baik. Andai saja ia bangun shalat malam

Sungguh Abdullah seorang lelaki yang sangat baik. Andai saja ia bangun shalat malam

Diriwayatkan dari Ibnu `Umar bahwa ia berkata: “Seorang lelaki di zaman Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention apabila bermimpi, ia akan menceritakan mimpinya kepada Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention (agar ditakwil oleh beliau). Maka akupun berharap bermimpi sebuah mimpi dan menceritakannya kepada Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention. Saat itu aku masih remaja dan belum menikah. Aku sering tidur di masjid pada zaman Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention. Suatu ketika aku bermimpi seakan-akan dua Malaikat menjemputku dan membawaku ke Neraka. Ternyata Neraka itu melingkar seperti lingkaran sumur dan memiliki dua tiang seperti tiang sumur. Tiba-tiba aku melihat di dalamnya beberapa orang yang aku kenal. Akupun berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah dari Neraka. Aku berlindung kepada Allah dari Neraka. Aku berlindung kepada Allah dari Neraka.’ Lalu seorang Malaikat yang lain menemui kedua Malaikat tersebut, kemudian ia berkata padaku: ‘Jangan takut.’ Kemudian aku mengisahkan mimpi itu kepada Hafshah, dan Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention lalu beliau bersabda: ‘Sungguh Abdullah seorang lelaki yang sangat baik. Andai saja ia bangun shalat malam.’ Salim (pembantu Ibnu `Umar) berkata: “Setelah itu, Abdullah (Ibnu `Umar) tak pernah tidur malam (untuk shalat malam) kecuali sedikit saja.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Beberapa pelajaran dalam hadits ini:

1. Meskipun sahabat ini (Ibnu `Umar) masih seorang anak belia, namun ia selalu mengharap kebaikan dan berusaha untuk itu. Bahkan dalam salah satu riwayat (dalam Shahih Al-Bukhari) ia berkata: “Kalaulah pada dirimu (menunjuk dirinya) ada kebaikan niscaya engkau akan bermimpi seperti mimpi mereka-mereka itu.” Maksud beliau: Bermimpi seperti para sahabat lain yang menceritakan mimpi mereka kepada Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention . Maka Allah mewujudkan keinginnya itu.

2. Cap baik dan pujian Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention terhadap sahabat ini, padahal ia masih seorang anak belia.

3. Pujian Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention ini terhadap sahabat kecil ini memiliki pengaruh positif terhadap hidupnya, sampai-sampai ia tidak tidak di malam hari (untuk shalat malam) kecuali beberapa waktu saja.

4. Semangat para sahabat  may  Allaah  be  pleased  with  her dalam mengerjakan kebaikan, bersegera dan berlomba di dalamnya.

5. Penegasan dari Sahabat Nabi ini  may  Allaah  be  pleased  with  thembahwa dirinya adalah seorang ghulam yaitu anak yang belum balig, muda-belia yakni: segar dan aktif, serta belum menikah, belum memiliki ikatan keluarga dan tanggung jawab pernikahan. Oleh karena itu ia tidur di masjid.

6. Cita-cita dan semangat yang tinggi pada diri Sahabat Nabi ini, yang menjadikan anak kecil sebagai seorang yang dewasa di mata orang lain.

7. Sebagaimana orang-orang dewasa cukup perhatian terhadap mimpi, demikian pula anak-anak kecil, mereka tidak kalah dalam hal perhatian terhadapnya.

8. Keutamaan shalat malam, bahwa ia merupakan salah satu sebab keselamatan dari Neraka.

9. Kebolehan mengharapkan mimpi yang baik, supaya si pemimpi itu mengetahui bagiannya di sisi Allah.

10. Rasa malu Ibnu `Umar kepada Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention dan hal ini merupakan adab beliau.

11. Kebolehan mewakilkan dalam menceritakan mimpi. Tidak ada masalah dalam hal ini. Hadits ini dan hadits-hadits lainnya adalah sanggahan bagi para penakwil mimpi yang mengklaim bahwa tidak boleh mendengar ataupun menakwil mimpi kecuali diceritakan oleh pemilik mimpi. Memang yang lebih utama ialah mendengar mimpi langsung dari pemilik mimpi, karena ia tentu lebih tahu tentang mimpinya. Selain itu, seorang penakwil mimpi mungkin saja (perlu) menanyakan beberapa hal dalam mimpi itu, atau tentang keadaan si pemilik mimpi, tetapi hal ini tidak menjadi penghalang bagi seseoang untuk menceritakan sebuah mimpi yang bukan miliknya lalu ditakwilkan. Seperti keadaan Ibnu `Umar ketika ia menceritakan mimpinya kepada saudara perempuannya, Hafshah (Isti Nabi). Kemudian Hafshah menceritakan mimpi itu kembali kepada Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention dan beliau tidak mengingkari hal itu.

12. Pengaruh besar mimpi tersebut bagi kehidupan Sahabat Nabi ini. Mimpi tersebut telah mengubah sebagian hidupnya dan pandangannya terhadap dunia.

13. Allah mengabulkan doa Shahabat Nabi ini meskipun ia masih seorang anak kecil.

Artikel Terkait