Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.
1. Sesungguhnya amal-amal perbuatan ditampilkan (dilaporkan) di hadapan Allah—Subhanahu wa Ta`ala—setiap siang dan malam, demikian pula setiap hari Senin dan Kamis. Hal ini telah ditegaskan dalam dalil-dalil yang shahîh, di antaranya hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy`ari
, bahwa ia berkata, “Pada suatu ketika, Rasulullah
berdiri di tengah kami dan menyampaikan lima kalimat: ‘Sesungguhnya Allah tidak tidur, dan mustahil baginya tidur. Dia menurunkan dan mengangkat timbangan keadilan. Dilaporkan kepada-Nya amalan malam hari sebelum amalan siang hari, dan amalan siang hari sebelum amalan malam hari. Hijab-Nya adalah nur, seandainya Dia menyingkapnya niscaya kesucian wajah-Nya akan membakar semua makhluk-Nya yang dijangkau oleh pandangan-Nya'.” [HR. Muslim].
Demikian juga hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah
, bahwa Nabi
bersabda, “Pintu-pintu Surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis. Lalu diampunilah setiap hamba muslim yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seorang lelaki yang memiliki dendam (permusuhan) kepada saudaranya (sesama muslim). Dikatakan (kepada para Malaikat): ‘Tinggalkanlah dua orang ini sampai mereka berbaikan, tinggalkanlah dua orang ini sampai mereka berbaikan, tinggalkanlah dua orang ini sampai mereka berbaikan'.” [HR. Muslim].
Dalam hadits pertama dijelaskan bahwa amal-amal perbuatan manusia diangkat (dilaporkan) kepada Allah. Laporan di sini mungkin saja disertai langsung dengan ampunan Allah terhadap dosa-dosa, sekaligus penerimaan amal-amal shalih, atau mungkin saja kedua hal itu ditunda hingga hari Kiamat. Adapun dalam hadits kedua, diterangkan secara tegas adanya ganjaran terhadap kebaikan dan ampunan terhadap dosa-dosa dengan syarat yang disebutkan.
Dan Allah—Subhanahu wa Ta`ala—akan menampilkan amal seluruh amal perbuatan seorang mukmin pada hari Kiamat, kemudian mengampuninya.
Sebuah hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar—
, bahwa ia mendengar Rasulullah
bersabda, "Seorang mukmin didekatkan ke hadapan Tuhannya—Hisyam meriwayatkan: ‘Seorang Mukmin mendekat’—sampai (Allah) meletakkan di atasnya naunganNya, lalu menyebutkan kepadanya dosa-dosanya, Allah berfirman kepadanya: ‘Apakah engkau mengetahui dosamu yang ini?’ Ia menjawab: ‘Ya, aku tahu. Aku tahu, wahai Tuhanku’ (dua kali). Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah menutupinya di dunia, dan sekarang aku mengampuninya untukmu'. Kemudian lembaran kebaikannya digulung. Adapun orang lain, atau orang-orang kafir, diseru di hadapan seluruh makhluk yang menyaksikan pada hari itu: ‘Merekalah orang-orang yang mendustakan Tuhan mereka. Ketahuilah bahwa laknat Allah-lah bagi orang-orang yang zalim'.” [HR. Al-Bukhari].
Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa seluruh amal perbuatan akan ditampilkan pada hari Kiamat, dan ini adalah penampilan terakhir. Adapun penampilan (laporan) amal sebelum itu, adalah penampilan yang sifatnya khusus, dilakukan oleh para Malaikat sebagai bentuk ketaatan mereka kepada Allah.
Al-Munawi berkata, “Al-Baihaqi berkata: ‘Kemungkinan terkuat, pelaporan amal perbuatan anak Adam oleh para Malaikat malam dan siang adalah bentuk ibadah mereka. Hikmah tindakan mereka ini adalah supaya mereka lepas dari tanggung jawab perintah (Allah). Kemudian mungkin saja Allah menampakkan kepada mereka apa yang hendak Dia perbuat terhadap orang yang ditampilkan amal perbuatannya itu.”
2. Kelalaian mengingat Allah—Subhanahu wa Ta`ala—adalah hal yang menimpa sebagian besar Kaum Muslimin, karena lupa adalah sifat manusia, demikian pula berbuat salah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih: “Setiap anak Adam itu banyak melakukan kesalahan-kesalahan. Tetapi sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.” [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi].
Jika kesalahan dan maksiat (dosa) adalah perkara yang tidak terlepas dari setiap manusia—kecuali dari orang yang telah dilindungi oleh Allah, maka tobat adalah hal yang wajib bagi mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah (yang artinya): “Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang beriman, supaya kalian beruntung.” [QS. An-Nur: 31].
Dan ketahuilah bahwa penyesalan yang Anda rasakan akibat berbuat dosa sudah termasuk bentuk tobat yang diperintahkan oleh Allah kepada kita, berdasarkan sabda Nabi
dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas`ud
: “Penyesalan itu adalah tobat.” [HR. Ahmad dan Al-Hâkim].
Demikian juga dalam hadits lain yang diriwayatkan dari `Aisyah—
, bahwa Nabi
bersabda, “Jika engkau telah berbuat dosa maka beristigfarlah (meminta ampun) kepada Allah. Sesungguhnya tobat dari dosa adalah: penyesalan dan istigfar.” [HR. Al-Baihaqi].
Wallahu a`lam.